Membangun Kemerdekaan Belajar Melalui Kesepakatan Kelas Di SMP Negeri 2 Kuripan




Oleh:

 

PGP-ANGKATAN 2-LOBAR -SAHMAN-1.4.a.10.1 -AKSI NYATA


SEKOLAH  MENENGAH PERTAMA NEGERI  2 KURIPAN

Jl. Pramuka No. 2 Kuripan Utara, Kecamtan Kuripan, Kab Lombok Barat

A.            Latar Belakang

 Fenomena murid yang berlaku tak berakhlak atau tak beretika pada saat pembelajaran di dalam kelas, mungkin sudah tak asing di institusi sekolah. Hal itu menyebabkan suasana kelas menjadi gaduh .  Krisis moral di kalangan murid masalah yang harus di benahi oleh pemangku kepentingan di sekolah. Krisis moral tersebut tidak terlepas dari era globalisasi yang telah membawa dampak luas di belahan bumi mana pun, tak terkecuali di negeri Indonesia. Dampak globalisasi diibaratkan seperti pisau bermata dua, positif dan negatif memiliki konsekuensi yang seimbang.

Ruang kelas adalah salah satu ruangan paling berharga, tetapi juga paling berbahaya . Kalau kita percaya pentingnya  proses belajar mengajar yang merdeka, maka sebagian besar upaya akan kita mulai dari bagaimana bentuk dan bagian , koneksi dan kausalitas, perspektif  dan perubahan yang melekat pada apa yang kita namakan sebagai kelas.

Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tetapi juga harapan murid terhadap guru. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Kesepakatan ini lebih mengedepankan peran aktif murid sebagai subyek pendidikan, sehingga setiap pendapat murid perlu dihargai. Lewat kesepakatan kelas, anak-anak sekaligus belajar tentang nilai-nilai demokrasi, serta pentingnya bertanggungjawab terhadap kesepakatan yang mereka buat sendiri

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak , adapun maksunya, pendidika yaitu menuntun kodrat yang ada pada anak-anak  itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tinginya. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan organisasi  pemuda, yang ia sebut dengan Tri Pusat Pendidikan (Di kutip dari Junral Filsafat Indonesia, Vol 2 No 3 Tahun 2019 ISSN: E –ISSN2620-7982, P-ISSN:2620-7990.

Dalam penerapan budaya positif ini guru harus mampu menjadi role model dan posisi kontrolnya adalah sebagai manager yang lebih menekankan pada tumbuhnya kesadaran dari dalam diri siswa, bukan lantaran berlakunya pemberian  hukuman dan pemberian hadiah. Di samping itu, untuk menerapkan budaya positif ini, guru tetap memperhatikan filosofis pemikiran KHD, terutama menerapkan among dan pamong, yaitu mengayomi, memfasilitasi, memotivasi dan berpihak pada anak. Selain itu, tetap memperhatikan kodrat anak dan kodrat alam.

Sebagai langkah awal untuk penerapan budaya positif, bisa dimulai dengan membuat kesepakatan kelas. Dalam pelaksanaannya, kesepakatan kelas ini harus melibatkan murid. Anak-anak ditempatkan  sebagai tokoh utama dalam pembelajaran, termasuk juga dalam pembuatan kesepakatan kelas, sehingga mereka merasakan keterlibatan dan perilaku  yang mereka tunjukkan sebagai bagian dari tanggung jawab  mereka sendiri, buka sekedar menjalankan peraturan yang berlaku di kelas.

Budaya positif yang tumbuh di kelas ini,  dengan membangun kemerdekaan belajar melalui kesepakatan hendaknya dapat  menciptakan pembelajaran yang teratur, nyaman, aman, dan menyenangkan bagi guru dan murid. Murid sebagai tokoh utama kemerdekaan belajar.

Nadiem Anwar Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia pada Hari Guru Nasional tahun 2019 silam mencanangkan program kebijakan baru yaitu merdeka belajar. Menurut KBBI, merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dan tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu.

             Oleh karena itu, aksi nyata 1.4.a.10.1 budaya positif adalah  membangun kemerdekaan belajar melalui kesepakatan kelas.

 

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.            Deskripsi Aksi Nyata

 

Penerapan budaya positif, bisa dimulai dengan membangun kemerdekaan belajar melalui  kesepakatan kelas. Dalam pelaksanaanya, kesepakatan kelas ini harus melibatkan murid. Anak-anak ditempatkan  sebagai tokoh utama dalam pembelajaran, termasuk juga dalam pembuatan kesepakatan kelas, sehingga mereka merasakan keterlibatan dan perilaku  yang mereka tunjukkan sebagai bagian dari tanggung jawab  mereka sendiri, buka sekedar menjalankan peraturan yang berlaku di kelas.

Penerapan kesepakatan kelas sebenarnya bukanlah hal yang baru. Membuat kesepakatan kelas selalu dilakukan pada awal tahun pelajaran. Namun, selama ini dalam penerapannya memang tidak melibatkan murid dalam kesepakatan kelas. Biasanya, kesepakatan kelas atau tata tertib kelas yang di buat guru, hanya menyampaikan aturan-aturan dan hal-hal yang harus dilakukan oleh peserta didik. Selanjutnya, murid diminta mengikuti aturan tersebut. Jika tidak, ada konsekuensi berupa hukuman yang akan diberikan.

           Setelah mendapatkan materi tentang penerapan budaya positif berupa langkah-langkah atau panduan penerapan kesepakatan kelas pada Program Pendidikan Guru Penggerak, penerapan kesepakatan kelas dilakukan secara berbeda seperti biasanya.

           Saat ini proses pembelajaran di SMPN 2 Kuripan menjadi salah satu sekolah yang mendapatkan izin tatap muka dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat, maka pembuatan kesepakatan kelas dilakukan secara tatap muka di kelas VIII B, SMP Negeri 2 Kuripan.

Pada akhir semester genap tahun pelajaran 2020/2021, usai pelaksanaan penilaian akhir semester (PAS), murid  kelas VIII B diajak membuat kesepakatan kelas. Saat itu yang mengikuti proses pembentukan kesepakatan kelas sebanyak 15  murid.

Sebelum pembuatan kesepakatan kelas , langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun panduan kesepakatan kelas. Ada 6 panduan dalam menyusun kesepakatan kelas yakni : menayakan pendapat murid , menanyakan  ide dari murid untuk mencapai kelas impian ,ambil kesimpulan dari ide, ubah ide menjadi kesepakatan kelas, tandatangani kontrak kesepakatan, dan  melakukan refleksi kesepakatan kelas yang sudah di sepakati dengan melihat bersama bafallo kontrak kesepakatan kelas.

Selanjutnya, pembuatan kesepakatan kelas ini adalah bertanya dulu kepada murid tentang bentuk kelas impian mereka. Semua siswa menjawab secara antusias pertanyaan yang diberikan. Jawaban yang mereka berikan antara lain, kelas yang bersih, rapi, nyaman, indah dan menyenangkan. Setelah itu, murid kembali diberikan pertanyaan, bagaimana cara mewujudkan kelas yang bersih, sehat, aman, nyaman, dan menyenangkan?.  Murid kembali menjawab antara lain dengan menjaga kebersihan kelas, bekerja sama, tidak membuang sampah sembarangan serta saling membantu dalam menjaga kebersihan kelas. Kemudian, murid kembali ditanyakan, bagaimana cara agar bisa mendapatkan hasil maksimal dalam proses pembelajaran? murid menjawab dengan masuk tepat waktu , berdoa sebelaum dan sesudah belajar dan dengan cara belajar dengan giat dan menyimak guru saat menerangkan atau menjelaskan pelajaran.

        Kemudian murid kembali ditanyakan menurut kalian apa yang harus kita semua lakukan untuk mencapai kelas impian kita? Mereka menjawab kelas tanpa kekerasan fisik. Apa lagi?  kelas tanpa kekerasan verbal, seperti bullying. Apa lagi?” Kita harus sama-sama menjaga komitmen dalam menjalankan kesepakatan kelas, tanpa pemberian hadiah atau hukuman, pak guru.

Selanjutnya melakukan diskusi untuk mendapatkan umpan balik dari murid, perjelas tentang kesepakatan kelas , penting  jika kesepakatan kelas , murid percaya  dan bisa di lakukan  baik sebagai individu maupun dalam kelompok , pastikan memang semua daftar diperlukan dalam proses  belajar mengajar, jika ada yang terlewati pandu murid untuk menambahkan  yang terlupakan  atau menghapus tujuan yang tidak utama.

Kemudian guru dan murif bergiliran  menulis di kertas buffalo berupa tingkah laku dari kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas  dapat dibuat berupa panduan tingkah laku  .  Kemudian memastikan  jumlah poin kesepakatan kelas tidak banyak sehingga mudah dipahami dalan dilakukan.

Setelah kesepakatan kelas di setujui kemudian memberikan waktu kepada murid untuk mendatangani  kontrak kesepakatan kelas , guru juga perlu menandatangani kesepakatan kelas tersebut, kemuduain meletakkan poster kesepakatan kelas yang sudah ditandatangani agar terlihat oleh semua guru

Langkah yang terakhir adalah melakukan refleksi secara rutin terkait kesepakatan kelas yang sudah di susun , tayakan murid terkait perkembangan  dan tentukan apa ada hal yang perlu diubah atau diperbaikai. Jika dalam poin kesepakatan kelas masih ada yang kurang atau ada dari mereka yang masih melanggar , maka mereka diajak untuk mendiskusikan hasil kontrak kesepakatan kelas. Ini merupakan tantangan yang dihadapi, namun setelah melakukan refleksi bersama, keberhasilan  murid melaksanakan kontrak kesepakatan kelas yang mereka buat sendiri, tanpa ada hadiah dan hukuman bagi murid yang melanggar kesepakatan yang telah di buat bersama.

Alasan mengapa melakukan aksi nyata ini karena murid ditempatkan sebagai tokoh utama dalam pembelajaran sehingga mereka merasakan perilaku. Perilaku yang mereka tunjukkan sebagai pernyataan dari tanggung jawab mereka sendiri,. Kesepakatan kelas adalah potret pendekatan budaya positif yang lebih mengedepankan peran aktif siswa sebagai subjek pendidikan. Ruang kelas sebagai cerminan awal menuju proses belajar mengajar, Guru dan murid akan memperoleh situasi yang kondusif pada saat penyampaian materi dan kegiatan belajar mengajar sehingga terciptanya pembelajaran yang menyenangkan dan kemerdekaan belajar karena kondisi atmosfer kelas yang menyenangkan.

C.               Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

Setelah melaksanakan  aksi nyata 1.4.a.10.1  ini ternyata  belum bisa  mencapai keberhasilan sesuai yang diharapkan karena aksi nyata ini di buat diakhir semester genap dan tidak ada proses pembelajaran. Namun adapun hasil dari aksi nyata yaitu sebagai berikut:

1.      Mendapatkan banyak pengalaman baru dalam membuat kesepakatan kelas.

2.      Guru dan murid dapat menanamkan nilai budaya positif dan displin positif dikelas

3.      Menumbuhkan kondisi yang aman, nyaman, dan menyenangkan dalam belajar mengajar  sehingga dapat membentuk lingkungan merdeka belajar

4.      Dapat mengembangkan potensi murid untuk mencapai cita-citanya.

 

D.               Pembelajaran yang Didapatkan dari Pelaksanaan

Banyak pembelajaran yang  di dapatkan dari pelaksanaan aksi nyata  ini sehingga  dibutuhkan analisis untuk mencari kelemahan yang menyebabkan kegagalan dan kekuatan yang bisa menjadikan keberhasilan. Adapun kelemahan yang menyebabkan kegagalan adalah sebagai berikut:

1.         Kegagalan

a.    Poin kesepakatan kelas tidak efektif diterapkan

b.   Masih terdapat murid yang melanggar kesepakata kelas

c.    Belum konsistensi untuk melaksanakan disiplin positif di kelas

d.   Murid  belum berperilaku displin positif

2.         Keberhasilan

a.    Guru dan murid dapat menumbuhkan dan menanamkan disiplin positif di kelas

b.   Pembiasaan positif di kelas akan terjadi pada saat kegiatan pembelajaran

c.    Membangun lingkungan positif melalui budaya positif dalam rangka mewujdukan kemerdekaan belajar

d.   Proses pembelajaran berjalan nyaman, aman, dan menyenangkan  serta efekitf sehingga terwujud kemerdekaan belajar sesuai profil pelajar Pancasila

E.            Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

Rencana perbaikan yang akan dilakukan penulis adalah membuat kesepakatan kelas pada awal masuk tahun pelajaran, kemudian  mengkaji kembali beberapa poin terkait hasil kesepakatan kelas. Dalam penyusunan kesepakatan kelas  penulis akan memberikan kesempatan kepada seluruh  murid untuk menyampaikan pendapatnya. Hal ini bertujuan agar semua murid  merasa terlibat dalam diskusi untuk mencapai kesepakatan kelas.  Penulis juga akan terus mengeksplorasi diri untuk mengarahkan  pembentukan karakter dan prilaku positif lainnya sehingga murid akan memperoleh motivasi intrinsik dalam melakukan setiap budaya positif.  Selain itu, penulis akan berbagi praktik baik dalam bentuk kesepakatan kelas dengan  rekan sejawat,   Dengan demikian, penjelasan tentang praktik baik penerapan kesepakatan kelas ini mampu dipahami dan diterima oleh rekan sejawat yang lain dalam upaya membangun budaya positif.   

 Selama merencanakan aksi nyata membangun kemerdekaan belajar melalui kesepakatan kelas , penulis merasakan bahwa selama ini ada sesuatu yang baru dalam menerapkan budaya positif di sekalah. Dimana selama ini, penulis membuat kesepakatan kelas atau tata tertib kelas , tidak pernah melibatkan murid secara awal. Biasanya, penulis  hanya menyampaikan dan membuat aturan-aturan dan hal-hal yang harus dilakukan oleh murid. Selanjutnya, peserta didik diminta mengikuti aturan tersebut. Jika tidak, ada konsekuensi berupa hukuman yang akan diberikan. Pada melaksanakan aksi, penulis tidak bisa mengukur sejauhmana efektivas aksi nyata ini karena limit waktu dalam penyusunan dan pembuatan kesepakatan kelas. Namun penulis merasa ada sesuatu yang berubah dari cara penulis dalam membangun budaya positif di kelas dalam mewujudkan kemerdekaan belajar

Penulis juga akan memaksimalkan pedekatan IA model Bagja serta  selalu memaksimalkan asesmen sikap murid sebagai upaya untuk mengukur kegagalan dan keberhasilan kegiatan aksi nyata.   Indikator asesmen antara lain tidak menghargai pendapat orang lain, tidak  santun saat berbicara dengan guru, tidak mengucapkan salam kepada guru saat keluar masuk kelas, dan tidak mengucapkan maaf ketika berbuat kekeliruan atau kesalahan. Dengan model IA dan asesmen ini, penulis beraharap dengan kesepakatan kelas ini, target pembelajaran terwujud yakni kemerdekaan belajar sesuai dengan profil pelajar Pancasila serta melakukan perbaikan dengan melibatkan murid  ditempatkan  sebagai tokoh utama dalam pembelajaran, termasuk juga dalam pembuatan kesepakatan kelas, sehingga mereka merasakan keterlibatan dan perilaku  yang mereka tunjukkan sebagai bagian dari tanggung jawab  mereka sendiri, buka sekedar menjalankan peraturan yang berlaku di kelas.

 

 

 

 

          

Komentar