Teknik Wawancara Dan Penulisan Berita Melalui Model Pembelajaran Begibung Di SMP Negeri 2 Kuripan
Oleh:
PGP-ANGKATAN 2-LOBAR -SAHMAN-1.1.a.10-AKSI NYATA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 KURIPAN
Jl. Pramuka No. 2 Kuripan Utara, Kecamtan Kuripan, Kab Lombok Barat
A. Latar Belakang Masalah
Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pendidikan dan pengajaran memiliki makna yang berbeda dalam memahami arti dan tujuan pendidikan. KHD mengatakan “Pengajaran merupakan proses pendidikan yang dilakukan dalam memberi ilmu yang bermanfaat untuk kecakapan hidup seorang anak secara lahir dan batin, pendidikan memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat, yang dimiliki anak agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.”
Agar pendidikan dapat terlaksana dengan baik, maka Ki Hajar Dewantara menetapkan beberapa filosofi yang diterapkan di Sekolah Taman Siswa. Di antaranya, filosofi petani, menghamba pada anak, memahami kodrat anak (sesuai alam dan zaman), bermain, dan memperbaiki budi pekerti.
Pelaksanaan filosofi pendidikan Ki hajar Dewantara ini lebih mengutamakan kemerdekaan dalam belajar. Murid merdeka dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan kodrat yang dimiliki. Murid bebas berkreasi mengungkapkan ide-idenya melalui wawancara, dan penulisan berita.
Berawal dari sikap peserta didik dan pernyataan yang sering diutarakan mereka yang merasa kesulitan ketika dimunculkan ide tentang teknik wawancara dan penulisan berita. Hal ini dikarenakan tidak ada materi dalam mata pelajaran secara khusus teknik wawancara dan penulisan berita. Meski pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia terdapat materi teks berita tetapi sifatnya tidak sampai pada proses memperoduksi buletin sekolah.
Belum lagi anggapan peran buletin sekolah sebagai media pengajaran bahasa Indonesia belum mendapat perhatian secara luas dikalangan guru bidang studi. Masih langka, bahkan belum ada yang merintis pengelolaan buletin sekolah , praktis yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakulikuler bahasa Indonesia. Penyebabnya karena kurang kreativitas guru untuk memodifikasi bentuk buletin yang sudah lama menjadi tren di sekolah (Barung, 1998: 98).
Tiada kata terlambat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia dalam “Merdeka Belajar” termasuk dalam rencana pembuatan buletin sekolah di masa yang akan datang. Untuk itu, bedasarkan filosofi KHD , sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) melaksanakan Aksi Nyata dengan judul “ Teknik Wawancara dan Penulisan Berita Melalui Model Pembelajaran “BEGIBUNG”, yang disesuaikan jadwal perangkat pembelajaran yang diajarkan.
B. Deskripsi Aksi Nyata
Berdasarkan latar belakang di atas, sebagai CGP yang berstatus guru SMPN 2 Kuripan, sudah menjadi tanggung jawab dan berusaha untuk menerapkan “Merdeka Belajar” dalam mengembangkan kemandirian peserta didik, kolaboratif, inovasi dan pembelajaran yang berpihak pada murid.
Dalam pelaksanaannya, disesuaikan dengan jadwal pelajaran Bahasa Indonesia. Sebelum memberikan tugas teknik wawancara dan penulisan berita, dan berencana menerbitkan buletin kedepannya terlebih dahulu peserta didik, diberikan model pembelajaran “BEGIBUNG” sebagai pedoman dalam proses pembelajaran dan mengerjakan tugas.
Model pembelajaran “BEGIBUNG”merupakan sebuah akronim dari BE: Berdiksusi, Gi : Berbagi, dan Bung : Bergabung.
Pelaksanaan teknik wawancara dan penulisan berita melalui model pembelajaran begibung merupakan penerapan dari makna filosofis yang terkandung dalam kearifan lokal suku sasak. Ada beberapa makna filosifis dari begibung tersebut diantaranya sebagaiman termuat dalam (http://ntb.aman.or.id/2017/08/14/filosofi-begibung-masyarakat-sasak diakses 22 Mei 2021 puku 12.16 WITA), salah satu alasan mengapa mengunakan meodel pembelajaran “BEGIBUNG” karena memiliki makna folosofisnya sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak yakni kolaboratif . Makna folisofis ini juga selaras dengan profil Pancasila yaitu bergotong royong.
Sebelum peserta didik melakukan aksi nyata melakukan wawancara dan menulis teks berita, saya terlebih dahulu pada pertemuan pertama membekali dan menyampaikan materi terkait hal tersebut dengan linimasa waktu 1 x pertemuan. Menjadi seorang pendidik memang harus selalu dituntut kreatif dan inovatif dalam kegiatan pembelajaran karena melalui guru inilah siswa dapat memperoleh informasi baru bermanfaat. Agar informasi yang disampaikan dapat diterima oleh siswa dengan baik, maka memerlukan sebuah metode pembelajaran , Metode yang saya gunakan selaras dengan model pembelajaran BEGIBUNG yakni metode berdiskusi. Saya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkelompok dan menyelesaikan masalah yang saya berikan kemudian mereka berbagi dengan kelompok lain tentang materi yang sudah di diskusikan. Selanjutnya , saya mengabungkan dan merangkum hasil diskusi masing-masing kelompok menjadi suatu kesimpulan yang bermakna. Pada sesi wawancara , saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan wawancara dengan teman sejawat.
Setelah sesi penyampaian materi, saya kemudian memberikan waktu 1 x pertemuan kepada peserta didik untuk melakukan aksi nyata melakukan wawancara dan selanjutnya menulis hasil wawancara tersebut dalam bentuk teks berita. Saya selaku guru tentu akan melakukan editing terhadap karya tulisan peserta didik tersebut.
Alasan mengapa melakukan aksi nyata ini dikarenakan teknik wawancara dan penulisan berita melalui model pembelajaran begibung menuntun siswa untuk bernalar kritis, mandiri, dan inovatif serta untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik dalam upaya untuk menguatkan dan menciptakan profil pelajar Pancasila.
C. Hasil Dari Aksi Nyata
Setelah melaksanakan rancangan aksi nyata 1.1.a.10.1 ini ternyata bisa mencapai keberhasilan sesuai yang saya harapkan. Adapun hasil dari aksi nyata yaitu sebagai berikut:
1 Saya mendapatkan banyak pengalaman baru dalam membuat persiapan pelaksanaan tindakan aksi nyata berdasarkan saran dan masukan dari Kepala Sekolah, dan rekan sejawat .
2 Peserta didik sudah mulai menanamkan nilai-nilai dan peran guru penggerak.
3 Peserta didik sudah mulai memiliki karakter sesuai profil pelajar Pancasila.
4 Peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya dengan beranai melakukan wawancara dengan narasumber mulai dari teman sebaya, kepala sekolah, kepala desa, kepala dinas dan elemen lainnya.
5 Peserta didik dapat melakukan wawancara dan menulis teks berita.
D. Pembelajaran Yang Di Dapat Dari Pelaksanaan
Cukup banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari pelaksanaan program ini sehingga membuat saya belajar menganalisis mencari kelemahan yang menyebabkan kegagalan dan kekuatan yang bisa menjadikan keberhasilan. Adapun kelemahan yang menyebabkan kegagalan adalah sebagai berikut:
1. Kegagalan
a. Keterbatasan sarana dan prasarana seperti alat perekam tave recorder.
b. Bagi peserta didik belum dapat memahami teknik dalam hal memproduksi teks berita yang baik yang akan diterbitkan di buletin sekolah.
c. Masih ada peserta didik yang kurang percaya diri untuk menentukan sendiri narasumber.
d. Masih ada peserta didik yang belum menguasai teknik wawancara dan penulisan berita dengan baik dan benar.
e. Peserta didik belum mampu menentukan isu atau tema yang akan dijadikan bahan wawancara.
f. Peserta didik belum bisa mengkategorikan bentuk-bentuk wawancar.
g. Peserta didik nelum bisa mengkategorikan jenis-jenis wawancara
h. Peserta didik belum menguasai sikap-sikap yang harus di miliki pewawancara.
2. Keberhasilan
a. Peserta didik dapat menghasilkan karya tulis teks berita secara sederhana.
b. Peserta didik dapat mengimplemtasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak serta nilai profil pelajar Pancasila.
E. Rencana Perbaikan Untuk Pelaksanaan Di Masa Mendatang
Setelah melaksanakan program aksi nyata 1.1.a.10.1 ini, saya mencoba merefleksi diri dan refleksi kegiatan tentang perbaikan yang harus saya lakukan di masa mendatang. Hal ini penting demi meminimalisir kegagalan dan hambatan serta meningkatkan kekuatan agar bisa tercapai keberhasilan yang sesuai tujuan dan tolak ukur. Adapun perbaikan yang akan saya lakukan di masa mendatang yaitu:
1. Lebih banyak mendegar dan mengimplementasikan masukan Kepala Sekolah dan teman sejawat , bahkan masukan dari peserta didik.
2. Membuat daya tarik agar peserta didik agar tertarik dalam tulis menulis
3. Membuat jadwal yang terukur dan terencana
4. Berkolaborasi dengan ekosistem pendidikan

Komentar
Posting Komentar