Guru Penggerak Arsitek Peradaban

                                                     Guru Penggerak Arsitek Peradaban            


                    
        Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan program pendidikan guru penggerak, Jumat, 3 Juli 2020 lalu.

     Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid

      Konsep program guru penggerak  ini berpijak pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang menghadirkan tiga kata kunci yang perlu di implementasikan bagi seorang guru, yaitu teladan, motivasi, dan berdaya atau merdeka.

    Selain sebagai pemimpin pembelajaran, Guru penggerak juga memiliki peran strategis dalam  membangun peradaban sebuah bangsa. Melihat kiprah  guru penggerak seperti melihat sebuah masa depan cerah yang telah dijanjikan untuk dunia ini.

    Dalam buku yang berjudul guru sang arsitek peradaban karya Muhammad Syafi’ie El-Bantanie cetakan  1 Agustus 2019 mengatakan bahwa mendidik adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi siap menjadi pelaku sejarah dan pembangunan peradaban. Maka, menjadi guru lebih dari sekedar profesi, melainkan sang arsitek peradaban.

    Guru sebagai sang arsitek peradaban adalah guru yang mendidik dan mengajar dengan hati. Tuntunanya berarti guru memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya , dengan proses keteladanan atau memberi contoh  melalui sikap dan tingkah laku yang baik merupakan strategi yang ampuh dari sedekar mengajar. 

     Menurut Ki Hadjar Dewantara  memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Lebih jauh Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat  memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak

        Guru penggerak sebagai arsitek peradaban harus didasari pada filosofi Ki Hadjar Dewantara yakni olah hati, (etika), olah pikir (literasi), olah karsa (estetika), dan olahraga (kinestetik). Dari filosofi itu diharapkan muncul niali-nilai karekter siswa.

     Peradaban suatu bangsa akan berdiri kokoh ketika para guru masih menjadi garda terdepan pelukis peradaban seperti dalam tulisan Miskudin Taufik tanggal 28  Februari 2019 dilaman Itjen Kemendikbud mengigatkan  kita ketika Jepang pernah terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh bom Amerika. Jepang saat itu lumpuh total, korban meninggal mencapai jutaan, belum lagi efek radiasi bom tersebut yang dalam perkiraan membutuhkan 50 tahun untuk menghilangkan itu semua.

Maka Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu, dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral masih hidup yang tersisa menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?“. Para jendral pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru. Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”

Betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar saat itu sama seperti betapa bernilainya guru saat ini. Jepang menjadi negara maju seperti saat ini tak lepas dari pengaruh dan campur tangan guru. Tanpa guru, mungkin Jepang saat ini akan tetap terpuruk dan takkan menjadi salah satu negara yang ditakuti oleh negara lain. Bahkan saat ini, Jepang telah menjadi ancaman serius untuk negara yang pernah menjadikkannya terpuruk, yakni Amerika. Kemajuan Jepang tersebut hanyalah sebuah ilustrasi dan pengibaratan yang sangat sederhana tentang pentingnya sosok guru.

Pemerintah  kita saat ini melalui Kemendikbudristek ingin mempertegas bahwa bangsa ini juga  membutuhkan sosok guru . Sosok guru yang  bagaimana yang diharapkan ? Kini Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, daen Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, secara resmi menutup Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1. Dalam sambutannya, Menteri Nadiem menyampaikan bahwa hari ini adalah momentum bersejarah bagi dunia pendidikan karena kini Indonesia sudah memiliki Guru Penggerak. Harapannya, ke depan, guru tidak pernah ragu menggerakkan perubahan dan menghadirkan terobosan untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang merdeka. 

Komentar