Guru Penggerak,  Pendorong Transformasi Pendidikan (Bag 6)


    


Program guru penggerak akan melahirkan pemimpin-pemimpin pembelajaran.  Pemimpin pembelajaran yang di maksud adalah pemimpin yang bisa memahami bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid.

“Tapi dengan syarat pemimpin-pemimpinnya bisa memahami bagaimana pembelajaran yang berpusat pada murid, yang menjadi teladan dan kemudian memotivasi, menguatkan karsa para murid, guru di sekolahnya. Sehingga yang kita bayangkan ke depan itu peningkatan kompetensi berbasis sekolah. Dan itu yang menjadi sangat relevan dan cepat sekali,” ungkap Dirjen GTK Kemebdikbud RI Iwan Syahril melalui laman Facebook Ditjen GTK Kemendikbud RI.

   Sistem pembelajaran berpusat pada murid adalah sistem yang seharusnya dibangun oleh murid tanpa harus mengandalkan pengajaran dari guru. Sistem pembelajaran ini masih menjadi kendala tersendiri bagi kita karena berbagai faktor yakni masih kurangnya minat baca siswa membuat mereka mengandalkan pengajaran guru di kelas, dan hasilnnya murid harus memahami dulu apa yang disampaikan. 

Ada berbagai strategi yang harus di lakukan salah satunya adalah seharusnya murid  membaca materi pelajaran terlebih dahulu supaya apa yang tidak dipahami dapat ditanyakan langsung. 

Kelambatan dalam proses pembelajaran inilah yang membuat murid tertinggal dengan murid lain yang rasa ingin tahunya besar. Dengan adanya pembelajaran interaktif, membuat suasana tanya-jawab dalam pembelajaran tercipta. 

Dalam rangka mengubah sistem pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengadakan kegiatan wajib baca selama 15 menit. Melalui strategi ini pembelajaran yang berpusat pada murid bisa berjalan. Selain itu, pembelajaran holistik bisa juga di gunakan dalam upaya agar pembelajaran berpusat pada murid dapat berjalan.

Pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengaitkannya dengan topik-topik lain sehinggga terbangun kerangka pengetahuan.

Kata “holistik‟ (holistic) berasal dari kata “holisme‟ (holism). Kata “holisme‟ pertama kali digunakan oleh J.C. Smuts pada tahun 1926 dalam tulisannya yang berjudul Holism and Evolution, bahwa asal kata “holisme” diambil dari bahasa Yunani, holos, yang berarti semua atau keseluruhan. Smuts mendefinisikan holisme sebagai sebuah kecenderungan alam untuk membentuk sesuatu yang utuh sehingga sesuatu tersebut lebih besar daripada sekedar gabungan-gabungan bagian hasil evolusi (Nobira: 2012). 

Pembelajaran holistic adalah turunan dari konsep pembelajaran holistik (holistic learning) yang merupakan suatu filsafat Pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Pendidikan holistik sebetulnya bukan hal yangbaru. Beberapa tokoh perintis pendidikan holistikdi antaranya: Jean Rousseau, Ralph Waldo (Bersambung)

Komentar