Membangun Budaya Positif Melalui Refleksi

 Membangun Budaya Positif Melalui Refleksi

   

    Salah satu program Pendidikan Guru Pengerak (PGP) yang selalu dilakukan oleh Calon Guru Pengerak (CGP) pada saat Lokakarya dan pembelajaran daring melalui Learning Management Syistem ( LMS) adalah menulis jurnal refleksi. 

Hal ini penting dilakukan untuk merefleksikan dirinya dalam melaksanakan proses pembelajarannya.

  Refleksi perlu sekali dilakukan agar guru dapat mengevaluasi diri sendiri saat mendidik siswa dan merencanakan kompetensi diri dan siswanya. Oleh karena itu, hal ini akan sangat baik jika dilakukan setiap hari.

  Dalam penutupan Lokakarya ke-5 di Hotel Aruna Senggigi Pengajar Praktik menutup kegiatan dengan kalimat bijak " Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia, refleksi tanpa belajar adalah berbahaya" 

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cetakan ke-V Refeleksi adalah cerminan atau gambaran.

  Melalui media refleksi guru bisa bercermin apa yang sudah dilalukan atau sebaliknya. Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). 

   Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). 

  Dalam pembelajaran daring pada Pendidikan Guru Penggerak, jurnal yang ditulis setiap minggu ini menjadi media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah dilakukan. Dengan memiliki rekam jejak yang berkelanjutan seperti ini, kita akan terdorong untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang kita latih dan uji cobakan. Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga kita dapat semakin mengenali diri sendiri. Sama halnya dengan keterampilan lainnya, menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar dapat dirasakan manfaatnya. 

 Pada awalnya, mungkin tidak mudah untuk menuangkan gagasan reflektif ke dalam tulisan. 

   Ada beberapa model refleksi salah satunya Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future). 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

  4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal): 1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?

  2.Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa9 yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut.

  3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?

  4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? 

 Contoh bagaimana refleksi dengan mengunakan model 4F.

  Minggu, 12 Maret 2021 Minggu ini adalah jadwal penilaian tengah semester di sekolah saya. Sebagai penilaian mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya meminta murid saya untuk membacakan naskah pidato yang telah mereka buat. Selama ini, sekolah saya memang menerapkan kebijakan konferensi video (dengan zoom) seminggu 3 kali saja. Karena jadwalnya seperti itu, saya tidak dapat melakukan penilaian secara live mengingat saya mengajar di 4 kelas parallel. Saya pun menyuruh murid saya untuk merekam video mereka ketika membacakan naskahnya lalu mengirimkan videonya ke saya.

 Pada saat deadline kelas 8C, saya mengecek hanya ada 5 murid yang mengumpulkan. Bayangkan, cuma 5 dari 25 murid! Saya marah sekali, saat jadwal untuk Zoom dengan kelas 8C, saya pun meluapkan semua amarah saya. Saya bentak-bentak mereka selama hampir 15 menit. Saya juga mengancam tidak akan memberi mereka nilai untuk semua murid, termasuk 5 orang yang sudah mengumpulkan. Alasan saya waktu itu, 5 orang itu hanya mementingkan dirinya sendiri. Jujur, saya kaget dengan diri saya sendiri. 

Selama ini, murid-murid dan guru lain mengenal saya sebagai pribadi yang ramah dan guru tersabar di sekolah. Saya jarang sekali marah, terlebih membentak anak didik saya. Ini adalah pertama kalinya saya kebakaran jenggot selama 6 tahun saya berkarir sebagai guru.

 Tidak hanya kaget, saya juga malu. Malu kepada diri sendiri, terutama, karena setelah Zoom berakhir, 2 murid yang belum mengumpulkan tugas mengirim pesan kepada saya. Kata mereka, mereka minta maaf karena membuat saya jadi meluap-luap. Mereka juga meminta maaf karena belum bisa mengumpulkan tugas tepat waktu. Mereka sedang menyelesaikan tugas untuk penilaian Seni Musik karena mereka merasa guru Musik lebih galak; sementara saya lebih sabar sehingga tidak terlalu masalah jika tugasnya terlambat Saya tersadar, beban belajar murid-murid saat pandemi seperti ini lebih berat daripada biasanya. 

 Belajar dengan moda daring sudah merupakan perjuangan tersendiri, terlebih jika tugas dari guru-guru juga tetap banyak. Sementara itu, beban guru juga sama banyaknya. Saya mulai kehabisan ide untuk mengajar dengan kreatif tapi tanpa menambah berat mereka. Fyuh, saya pun beristingfar berkali-kali setelah itu. Barulah saya menyadari, kemarahan saya merupakan akumulasi dari semua kejadian selama pandemi ini. Sudah di pucuk ubun-ubun, istilahnya. 

Selama ini saya tidak pernah membentak murid bukan berarti saya tidak pernah merasakan marah. Justru saya sering kesal dengan murid-murid yang jarang ikut Zoom, apalagi terlambat terus dalam mengumpulkan tugas. 

Tapi semua selalu saya simpan. Mungkin kemarin adalah puncaknya, ditambah dengan permasalahan dalam rumah tangga yang sedang saya alami. Kesalahan saya, saya mencampuradukkan isu domestik dengan pekerjaan. Seharusnya saya tidak melakukannya, kasihan murid-murid saya yang menjadi korban. Saya lihat, jadwal modul minggu depan adalah modul tentang pembelajaran sosial dan emosional. Saya menaruh harapan besar pada modul tersebut. 

Saya harap saya bisa belajar banyak dari modul tersebut agar bisa mengatur emosi saya dengan lebih baik. Saya juga akan mencari tahu bagaimana saya bisa menjaga semangat/motivasi murid saya selama pembelajaran jarak jauh ini. Saya yakin, mereka pun perlu penguatan dari segi batinnya. Membangun budaya positif melalui refleksi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) perlu dilakukan secara bertahap dan berproses. Sebab saya meyakini perubahan adalah sebuah keniscayaan.

 Untuk mengimbaskan praktik baik pada komunitas praktisi dilingkungan sekolah perlu dilakukan secara bertahap dan berproses. Setiap guru hanya perlu mengisi google form yang dibuat oleh pemangku kepentingan lalu mengirimkannya.

 Isi dalam form tersebut adalah pernyataan atau pertanyaan yang reflektif dan tentunya beragam. Hal semacam ini juga bisa sebagai kontrol kepala sekolah kepada guru meskipun sederhana.

 Redaksi yang diajukan sangat sederhana dan sedikit yaitu:

 1. Hal apa yang telah saya lakukan saat sepekan KBM 

 2. Hal yang kurang tepat yang telah saya dilakukan sepekan KBM

 3. Hal yang akan di lakukan sebagai bentuk peningkatan komptensi diri selama sepekan ini.

Setidaknya dengan pertanyaan reflektik tersebut , maka guru akan mengingat kembali dan merefleksikan dirinya proses KBM yang telah dilakukan. Kebiasaan mengevaluasi diri adalah sebuah keniscayaan dalam rangka mewujudkan transformasi ekosistem pendidikan kearah yang lebih baik.

Komentar

  1. Kebiasaan refleksi harus menjadi budaya sekolah. Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya sekolah melalui refleksi pembelajaran

    BalasHapus

Posting Komentar