Pengaruh Filosofi Pratap Triloka Dalam Pengambilan Keputusan

 

  Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Oleh

             Sahman, S.Pd.,_ CGP Angkatan 2_ Kab. Lombok Barat_ SMP Negeri 2 Kuripan  


 Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap. 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi  (Kemendikbudristek) telah meluncurkan program guru penggerak , Jumat, 3 Juli 2020 lalu. Melalui program ini, Kemendikbudristek berkomitmen  memajukan ekosistem pendidikan yang lebih baik dengan melahirkan agen-agen perubahan yang berpusat  kepada murid. 

 Konsep program guru penggerak  ini berpijak pada filosofi Ki Hajar Dewantara yang menghadirkan tiga kata kunci yang perlu di implementasikan bagi seorang guru, yaitu teladan, motivasi, dan berdaya atau merdeka. Teladan berarti sesuatu yang patut di tiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakuan, perbuatan, kelakuan sifat, dan lain sebagainya).

    Bagi pemimpin yang berada di satuan pendidikan, teladan menjadi kata kunci yang terpenting karena seorang pemangku kebijakan setiap tutur kata dan kebijakannya akan menjadi pijakan warga sekolah.

   Motivasi berarti  dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar untuk melakukan  suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Seorang pemimpin di satuan pendidikan harus menjadi motivator bagi warga sekolah. Motivator ini akan memberikan rangsangan yang menjadi timbulnya motivasi pada orang lain untuk melakukan  sesuatu.

Sedangkan  berdaya berarti berkekuatan , berkemampuan. Seorang pemimpin harus memiliki kompetensi yang baik agar  satuan pendidikan yang di pimpinan memiliki visi dan misi yang mengarah kepada peningkatan mutu pendidikan.

 Kehadiran guru penggerak ini untuk menjadi teman belajar yang penuh Inspirasi dan menguatkan semangat bagi guru-guru lain. Kondisi yang ada, guru penggerak tidak akan patah semangat dan tidak putus asa, tetapi terus berjuang dengan sebaik mungkin.

Salah satu pemikiran Ki Hajar Dewantara  adalah berhamba pada peserta didik, dimana berhamba menuntut guru selalu ikhlas dalam membimbing  peserta didik dan menyadari  kebutuhan peserta didik yang berbeda sehingga  setiap anak mampu berkembang sesuai  dengan kondisi fisik, mental,  minat bakat dan potensi mereka.

Menuntut segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak  agar dapat memperbaiki lakunya  (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak dalam mengambil suatau keputusan. (Ki Hajar Dewantara )

Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara selaku pendiri Perguruan Taman Siswa yang terkenal  dengan semboyan ing ngarso sung toladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani  artinya di depan memberi teladan, tengah membangun motivasi/dorongan, dibelakang memberi dukungan.  Berdasarkan hal tersebut diatas guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutunya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan.

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip  dalam pengambilan keputusan.

Nilai-Nilai Kemanusiaan (Human Values) merupakan nilai-nilai yang sifatnya universal dan dapat dikembangkan untuk membentuk karakter siswa. Nilai-Nilai kemanusiaan ini terdiri dari kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih sayang dan tanpa kekerasan.

Nilai memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia, karena nilai menjadi orientasi dalam setiap tindakan manusia. Nilai-nilai tersebut menjadi prinsip yang berlaku di suatu masyarakat tentang apa yang baik, benar dan berharga yang seharusnya dimiliki dan dicapai oleh siswa dan warga sekolah.

 Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalam dilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus siswa  atau rekan sejawat  komunitas di sekolah, dengan mempertimbangan nilai benar vs benar (situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan diamana dua pilihan itu secara moral benar tetapi bertentangan), benar vs salah (seseorang membuat keputusan antara benar atau salah).

Ada tiga prinsip yang yang membantu menghadapi pilihan yang penuh tantangan (Kidder ,2009, hal 144) ketiga prinsip itu adalah

· Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking)

· Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking)

· Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking)

Ketiga  prinsip di atas sangat membantu dalam pengambilan keputusan dalam proses sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar murid sekaligus sebagai memberi contoh yang baik bagi siswa memahami karakter belajar siswa serta kondisi social emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila siswa  harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilema bagi mereka.

 Pengambilan keputusan efektif

Pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran , terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil telah berjalan efektif karena sebelumnya kita sudah mempelajari materi  coaching’ (bimbingan) modul 2.3.

Melalui modul 2.3 dan modul 3.1 ini juga sangat berkaitan erat dalam pengambilan keputusan.  Begitupula dengan modul 2.3  coaching’ (bimbingan) kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya (Whitmore, 2003).

Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. 

Pembahasan studi kasus yang focus pada masalah moral atau etika

Sebagai pemimpin pebelajaran kita  harus mengetahui apakah studi kasus tersebut termasuk  dilema etika atau merupakan bujukan moral. Dengan mengetahui hal tersebut kita akan mampu menuntun siswa dan komunitas di lingkungan sekolah  tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab. Pengambilan keputusan tentunya berdampak pada terciptnya lingkungan yang positif, kondusif , aman dan nyaman

Pengambilan keputusan yang  berdampak pada terciptanya lingkungan  PKAN

Setiap pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran akan berdampak pada situasi yang ada di komunitas lingkungan sekolah.  Kondisi saat mana kita akan mengambil sebuah keputusan tentu berhadapan dengan dilema, maka untuk  bisa meminimalisir dilema tersebut  sebagai pemimpin pembelajaran akan dengan bijak membuat keputusan namum tentu dalam pengambilan keputusan tepat baik untuk guru maupun untuk siswa dan rekan sejawat. Guru adalah seorang pemimpin yang mampu membuat situasi kondusif, aman dan nyaman di lingkungan sekolah maupun sekitarnya.

Pengambilan keputusan yang baik akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, aman, dan nyaman. Dalam pengambilan setiap keputusan tak terlepas dari emosional kita sebagai pemimpin pembelajaran.

Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik

Zins dkk (2001) mengatakan Pembelajaran sosial dan emosional adalah proses dimana anak-anak meningkatkan kemampuan mereka untuk mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan perilaku untuk mencapai tugas-tugas sosial yang penting.

Kesadaran Diri (Self Awareness)

2. Manajemen Diri (Self Management)

3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)

4. Kemampuan Berelasi (Relationship Skill)

5. Pembuatan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision Making)

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat - Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan.

Pengambilan keputusan  terhadap kasus-kasus dilema etika dan Permasalahan perubahan paradigma di lingkungan .

Sebagai pemimpin pembelajaran dan  makluk sosial  pengambilan suatu keputusan tidak akan luput dari dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan  situasional, yaitu antara benar-benar  memegang  aturan demi suatu keadialan. Namun terkadang kita susah membedakan mana yang merupakan dilema etika dan bujukan moral, misalnya saja kasus mencontek yang sudah pasti merupakan tindakan salah , meskipun tujuannya baik tetap saja merupakan kesalahan.   Adapun hal yang perlu diperhatikan  sebelum mengambil sebuah keputusan dalam dilema etika, 4 paradigma,

· Individu lawan masyarakat (individual vs community)

· Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

· Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

· Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Dilema individu melawan masyarakat adalah pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan kelompok yang sangat besar dimana individu ini juga menjadi bagiannya, bisa juga konflik kepentingan pribadi melawan kepentingan oranglain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar.

Rasa keadilan lawan rasa kasihan dalam paradigm ini adalah antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah  memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengececualian karena kemurahan hati dan kasih saying, di sisi lain.

Kebenaran lawan kesetiaan, kejujuran dan kesetiaaan sering kali menjadi nili-nili yang bertentangan dalam situasi dilemma etika . Kadang kita perlu membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Aapakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan  fakta atau menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnnya.

Jangka pendek lawan jangka panjang , paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang akan memilih akan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini untuk masa yang akan dating. Paradigma ini bisa terjadi pada level personal dan permasalahan sehari-hari atau pada level yang lebih luas.

Selain itu ada tiga prinsip yang yang membantu menghadapi pilihan yang penuh tantangan (Kidder ,2009, hal 144) ketiga prinsip itu adalah

· Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking)

· Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking)

· Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking)

· Dan bagaimana cara mengujinya? Ini adalah  9 langkah yang telah disusun secara berurutan

· Mengenali ada nilai-nilaia yang saling bertentangan dalam situasi ini

· Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

· Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini

· Pengujian benar atau salah

· Uji legal

· Uji Regulasi/Standar Profesiaonal

· Uji intuisi

· Uji halaman Depan Koran

· Uji Panutan/Idola

· Pengujian paradigm benar atau salah

· Prinsip pengambilan keputusan

· Investigasi Opsi Trilema

· Mencari opsi yang ada diantara 2 opsi,  apakah ad acara berkompromi dalam situasi ini .  Terkadang muncul sebuah penyelesaian yang kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya yang bisa saja muncul ditengah-tengah kebingungan menyelesaiakan masalah.

· Buat keputusan

· Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

 Pengaruh pengambilan keputusan  Untuk memerdekakan murid

Pengambilan keputusan yang baik dan tepat dapat memerdekakan siswa di lingkungan sekolah. Tentu sebagai seorang pembelajar sepajang hayat yang saat ini sedang mempelajari modul 3.1 sangat membantu dalam pengambilan  sebuah keputusan dengan baik,  terutama saat menemuka masalah belajar pada siswa,  Semuanya dilakukan untuk  memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka. Choaching  menjadi proses yang sangat penting dalam membantu siswa dalam pengambilan keputusan serta dapat membantu murid dalam mencapai kemerdekaan dalam setiap pengambilan keputusan.

Pengaruh Pemimpin Pembelajaran Untuk  Masa depan murid

Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan motivasi seorang pendidik  dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan memberikan yang terbaik untuk siswanya oleh karena itu keputusan yang baik dapat berpengaruh terhadap perkembangan siswanya. Apalagi dalm konteks kelas. Dimana kelas adalah ruangan yang paling berharga, tetapi paling berbahaya. Oleh karena itu sebagai pemimpin pembelajaran untuk masa depan murid dari membangun kemerdakaan belajar melalui kesepakatan kelas atau membangun budaya positif di sekolah.

 Kesimpulan  pembelajaran

Dari paparan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa pembelajaran modul 3.1 ini erat kaitanya dengan  modul-modul sebelumnya. Dimana modul 2.3 tentang Choaching juga sebagai seorang guru tentunya  sering menjumpai banyak kasus terkait murid. Kasus-kasus tersebut seringkali menjadi penghambat kemajuan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, respon cepat seorang guru sangat diperlukan. Begitupula dalam pengambilan sebuah keputusan.  Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang  membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri 

Sebagai pemimpin pembelajaran kita harus menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya  sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta kompertensi sosial emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Di modul 2.2 pembelajaran sosial esmosional,  peranan aspek sosial dan emosional dalam keseharian sebagai guru juga menjadi sebuah tuntunan dan tuntutan dalam pengambilan keputusan. Jika dalam pengambilan sebuah keputusan kita emosi makan pengambilan keputusan yang kita ambil akan merugikan diri kita dan orang lain

 Para pendidik yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita guru masa depan, dan proses pengambilan keptusan berdasarkan dilema etika. 

Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi karena keputusan yang diambil saat emosi itu tidak pernah berakhir baik. Oleh karena itu, jika masalah datang, tenangkan pikiran. Tak perlu memaksakan pengambilan  keputusan saat pikiran sedang kusut”

 

 

Komentar