Awalnya Skeptis Program PGP, Bertemu CGP Ada Energi Positif
Catatan Dialog Mas Menteri Nadiem Makarim Bersama CGP dan PP ====================================
Program Pendidika Guru Penggerak dihajatkan untuk memperbaiki kondisi dunia pendidikan ditanah air. Namun awal program ini diluncurkan Mas Menteri Nadiem Makarim merasa skeptis terhadap program ini. "Awalnya program pendidikan guru penggerak ini saya skeptis, saya terbiasa skeptis. Apapun program saya sendiri saya skeptis," ungkap orang nomor satu di Kemendikbudristek Republik Indonesia Mas Nadiem Makarim saat berdialog bersama Calon Guru Penggerak dan Pengajar Praktik di LPMP Provinsi NTB, Rabu (6/10).
Tim jajaran Kemendikbudristek sudah mengetahui hal itu, setiap kali ia berdialog bersama CGP di berbagai wilayah, baru ia kaget, ada energi positif yang ia dapatkan. Rasa skeptis terhadap program ini hilang. Mantan Bos Gojek ini merasa bangga dan senang atas segala testemoni yang muncul dalam dialog tersebut. Berbagai program tidak bisa dirasakan langsung saat itu juga. Semuanya butuh proses .
"Kita tidak bisa menikmati ini secara cepat, tetapi setiap kali saya berinteraksi dengan guru penggerak, saya mendapatkan energi positif, "katanya.
Dalam dialog tersebut Mas Menteri Nadiem Makarim memberikan kesempatan kepada guru penggerak untuk menyampaikan pengalaman dan pendapatnya atau testemoni selama mengikuti program MERDEKA BELAJAR.
Salah satu CGP Emi dari SDN 15 Cakranegara, Mataram merasa bersyukur bisa menjadi bagian gerakan perubahan.
Dalam program ini ia sepertinya menemukan sesuatu yang ia cari bahwa pendidikan itu sebagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak -anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
"Tujuan pendidikan itu simple, bagaimana agar anak itu selamat dan bahagia,"
Kalimat yang terdegar memang sangat sederhana , tetapi bagi seorang tenaga pengajar sekaligus pendidik , hal itu memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam modul PGP 1.1 filosofi Ki Hadjar Dewantara, tugas guru itu menuntun murid, bukan memaksa atau pun menuntut.
"Saya rasa ini program sangat bagus,"katanya.
Ia berharap , banyak guru mengikuti program ini . Materi yang diberikan selama PGP sangat bermanfaat, bukan hanya bagi guru itu sendiri, melainkan sekolah dan peserta didik. Ia meminta durasi diklat program ini tambah.
Sementara itu, Ni Ketut Mayoni CGP asal Lombok Tengah program PGP ini yang selama ini dinantikan guru sehingga guru diberikan keleluasaan untuk berbuat lebih banyak. Dirinya juga menyingung peserta dari CGP ada dari guru honorer.
" Kami berharap Mas Menteri nanti melihat mereka, apa yang terbaik yang seharusnya mereka terima,"katanya. Ia juga mengungkapkan rasa kekhawatiran jika puncuk pimpinan berganti. Program ini tidak berlanjut. Jika itu terjadi berbagai pengorbanan yang sudah dilakukan akan menjadi sia-sia.
Disela-sela kunjungan kerja di Bumi Gora ini, mantan Bos Gojek ini bersama rombongan menyempatkan diri bersilaturrahmi ke TGH. Lalu Turmudzi Badarudin, pengasuh Ponpes Qomarul Huda Bagu.
Seperti kebiasaan berkunjung ke berbagai daerah, Mas Menteri sempat menginap dirumah salah seorang guru honorer di Lombok Tengah. Ia ngobrol santai dengan guru honorer di Desa Mujur, Lombok Tengah. "Saya masih kaget dan deg-degan ini, karena bapak tiba-tiba datang berkunjung ke rumah saya," ungkap Sukardi Malik.
Mas Menteri mendengar pengalaman, tantangan, dan usulan dari seorang guru honorer di daerah itu.
"Saya pernah ditangkap polisi karena nggak pakai helm, ternyata polisi itu bekas murid saya. Saya lalu dikasih uang untuk beli helm," kata Sukardi menceritakan pengalamannya ke Mas Menteri Nadiem Makarim.
Komentar
Posting Komentar