Pemimpin Perubahan Harus Berani Ambil Resiko
Catatan Dialog Mas Menteri Nadiem Makarim Bersama CGP dan PP ==========================
Hari sudah beranjak sore, sangat terdegar jelas suara mobil Patwal rombongan Mendikbudristek Nadiem Makarim di seputaran Bundaran Giri Menang Square (GMS) Lombok Barat.
Suara mobil Patwal yang melintas di jalan BIL itu meyakinkan saya bahwa itu mobil rombongan Mas Menteri Nadiem Makarim. Betul dugaan saya, ketika saya membuka status Facebook milik Gubernur NTB DR. Zulklifliemansyah, terlihat gambar Gubernur NTB dan Wakil Gubernur NTB DR. Hj Sitti Rohmi Djalilah dan Mas Menteri Nadiem Makarim.
Ketika saya melihat gambar tersebut, pandangan saya tertuju pada baju kaos warna putih yang dipakai Mas Menteri yang bertuliskan "MERDEKA BELAJAR" Dua Doktor ini menyambut kedatangan rombongan Mas Menteri di ruang VVIP Bandara Internasional Lombok (BIL).
Saya tak menyangka Gubernur NTB yang menjadi sopir Mas Menteri, sedangkan Wakil Gubernur NTB duduk di jok belakang. Dua Doktor ini mendampingi Mas Menteri saat berdialog bersama Calon Guru Penggerak (CGP) dan Pengajar Praktik (PP) di LPMP, Provinsi NTB Rabu, (6/10). "Pak Gubernur yang menjadi sopir saya. Ini luar biasa, seru banget,"kata Mas Menteri Nadiem Makarim mengawali sambutannya. Saya mengikuti acara itu melalui Zoom Meeting Kemendikbudristek, meskipun saya tak termasuk yang diundang dalam dialog tersebut, saya sebagai Calon Guru Penggerak merasa termotivasi dari beberapa statmen yang disampaikan Mas Menteri yakni.
"Pemimpin perubahan Itu harus berani tidak populer, pemimpin perubahan itu harus berani ambil resiko,"
Itu sebuah kalimat sugesti yang selama ini menjadi motivasi CGP dan PP dalam mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak. Perubahan yang ada disistem pendidikan menurut Mas Menteri itu hanya bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Guru.
" Saya sebagai Menteri tidak bisa melakukan perubahan pendidikan. Bahkan Gubernur, Bupati dan Kepala Dinas tidak bisa melakukan perubahan di sekolah,"paparnya.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mencari calon-calon pemimpin yang paling hebat, paling berani, paling nekat ,yang paling mengutamakan murid atau berpihak pada murid dan yang mengutamakan filsafat Ki Hadjar Dewantara.
Tidak semua orang punya keinginan memimpin perubahan. Memimpin dan memimpin perubahan itu suatu hal yang berbeda. Seorang pemimpin perubahan berani mengambil resiko, berani berinovasi dan punya keinginan untuk mempimpin perubahan. Setelah Mas Menteri menyampaikan pengantar, CGP dan PP diberikan kesempatan untuk berbagi cerita selama mengikuti episode MERDEKA BELAJAR.
Saat CGP dan PP mengutarakan kisah heroiknya, saya merasa terharu. Perjuangan mereka luar biasa, harus melewati seleksi ketat, belum lagi mengikuti pendidikan selama 9 bulan. Suka dan duka mereka alami ,terutama di daerah terpencil yang tidak memiliki jaringan internet dan akses jalan yang rusak. Salah satu , Pengajar Praktik dari Bumi Patut Patuh Patju Putu Sudarma menceritakan kisah heroiknya saat mendampinggi CGP.
Banyak pengalaman dan ilmu yang ia dapatkan saat bergabung di program ini. Ia melihat ada energi baru pada CGP, dimana ada salah satu lokasi yang jauh dari ibu Kota Kabupaten yakni Gili Gede. Dimana wilayah ini tidak ada internet, harus menyeberang laut untuk bisa sampai kelokasi. Dari perjuangan CGP dan PP itu menurutnya luar biasa, bisa mengikuti program ini. Pada kesempatan itu, ia menyerahkan cendramata kepada Mas Menteri Nadiem Makarim berupa antalogi buku karya komunitas penulis Lombok Barat. (Bersambung)
Perubahan itu adalah keniscayaan. Hidup haruslah berubah. Jika kita tidak siap dengan perubahan, maka sesungguhnya kitapun tidak siap hidup
BalasHapusKalau ngak mau berubah, kita tidur saja hheh
BalasHapusSesungguhnya tidak ada yang abadi di dunia ini...Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
BalasHapusMantap.... Teruslah menulis berbagi cerita untuk perubahan dan pastinya juga untuk literasi...
BalasHapus